SPONSOR

Friday, December 21, 2012

Makalah Perkembangan Modern Dunia Islam (Muhammad Ali Jinnah))



BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Pada pertengahan abad ke dua puluh, tepatnya pada tahun 1947 di India secara resmi muncul sebuah negara yaitu Pakistan. Jika kita mau menelusuri sejarah terbentuknnya negara tersebut, maka akan didapatkan bahwa umat Islam adalah pendiri dan penggagas terbentuknya negara tersebut, dalam artian yang meng-konsep, dan mencita-citakan terbentuknya negara Pakistan adalah adalah umat Islam.
Terkait pembahasan  mengenai konseptor, maka tidak bisa dilepaskan dari pembahasan mengenai seorang tokoh yang mengkonsepkannya. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan mencoba memaparkan riwayat hidup beserta ide-ide cemerlang seorang tokoh yang sangat berperan aktif dalam pembentukan negara islam di Pakistan, yakni Mohammad Ali Jinnah (1876-1948).
Gerakan pembaharuan di Pakistan dilatarbelakangi oleh faktor kesenjangan perlakuan Inggris terhadap umat Hindu dan umat Islam dalam sistem pemerintahan, serta kesemenah-menahan Inggris terhadap rakyat. Penguasaan Inggris pada mulanya seiring dengan kultur masyarakat disana. Namun, pada tahun 1830-an kalangan misionaris Inggris menjadi semakin aktif, dan para pejabatan Inggris mulai menindas praktik keagamaan baik agamaIslam maupun agama Hindu, dan mereka sering menjatuhkan hukuman secara kejam.

  1. Rumusan Masalah:
Adapun rumusan masalah yang akan memberikan deskripsi menyangkut pembahasan isi makalah ini yaitu:
  1. Siapakah Mohammad Ali Jinnah itu?
  2. Bagaimana perjalanan politik seorang “Mohammad Ali Jinnah” ?
  3. Bagaimana ideologi Mohammad Ali Jinnah dalam pembaharuan negara islam di India?
  4. Perjuangan Mohammad Ali Jinnah dalam pembentukan negara islam “Pakistan”

  1. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu:
  1. Untuk mengetahui biografi Muhammad Ali Jinnah
  2. Mengetahui perjalanan politik Muhammad Ali Jinnah
  3. Mengetahui konsep pemikiran Muhammad Ali Jinnah dalam pembentukan dan pembaharuan Negara islam di India
  4. Mengetahui perjuangan Muhammad Ali Jinnah dalam pembentukan Negara Islam Pakista

BAB II
PEMBAHASAN

  1. Biografi Muhammad Ali Jinnah
Mohammad Ali Jinnah lahir pada hari Ahad, tanggal 25 Desember 1876, keturunan dari seorang saudagar dari Kathiawar.[1][1] Ia dilahirkan dengan nama Mohammed Ali Jinnah Bhai di Karachi, provinsi Sind (dulu di India, tetapi sekarang menjadi wilayah Negara Pakistan) dari pasangan pedagang yang berasal yang bernama Jinnahbhai dengan Mithibhai.[2][2] Kecerdasan yang ia miliki dan kemampuan materi orang tuanya, memungkinkan ia mendapatkan fasilitas yang besar untuk kepentingan pendidikannya.
Ketika menginjak umur sepuluh tahun, ia dikirim orang tuanya belajar di Bombay selama satu tahun, kemudian pulang ke Karachi dan melanjutkan pelajarannya di Sind Madrasatul Islam, setingkat dengan sekolah menengah pertama, dan setelah itu melanjutkan sekolah menengah atas di Mission Hight School. Atas nasihat Frederick Leigh Croft, Meneger Graham Shipping and Tradding Company, ia dikirim ke London oleh orang tuanya untuk belajar bisnis pada kantor pusat Graham Shipping and Tradding Company dan waktu itu ia berusia 16 tahun.[3][3]
Sampai di London, Muhammad Ali Jinnah tidak memasuki sekolah yang di cita-citakan ayahnya, tetapi beliau justru tertarik mempelajari hukum di London ini. Suatu lembaga pendidikan yang mempersiapkan lulusannya menjadi ahli hukum atau pengacara. Pada tahun 1896, ia memperoleh gelar sarjana dalam bidang hukum di London. Pada tahun itu juga ia kembali ke India dan bekerja sebagai pengacara di Bombay.[4][4]
Dalam masa pengabdiannya di bidang hukum ini, ia banyak berhubungan dengan berbagai kalangan lapisan masyarakat, diantaranya adalah Machperson, Jaksa Agung Bombay. ia sangat terkesan dengan semangat pengabdian Jinnah yang masih muda itu dalam bidang hukum, sehingga ia terdorong untuk memberikan fasilitas kepada Jinnah dengan kebebasan yang seluas-luasnya untuk mempergunakan perpustakaan pribadinya.[5][5]

  1. Perjalanan politik Mohammad Ali Jinnah
Karir politik Jinnah dimulai pada tahun 1906 dengan keikut sertaannya pada sidang Kongres Kalkuta (Calcutta Congress Seassion) sebagai sekertaris Presiden, Dhabai Naoradji. Beliau memilih bergabung dengan Kongres Nasional, karena menurut pendapatnya “ perjuangan yang paling utama bagi rakyat India adalah kemerdekaan India dan itu hanya dapat dicapai melalui usaha bersama kelompok Islam dan Hindu. Jinnah berkeyakinan bahwa persatuan umat Islam dan umat Hindu India merupakan syarat untuk tercapainya kemerdekaan India. Atas keyakinan, sikap dan upaya untuk menyatukan umat Islam dan umat Hindu ini demi kepentingan nasional dan kemerdekaan India, beliau dijuluki sebagai “Ambassador of Hindu Muslim Unity”.
Pada saat Muhammad Ali Jinnah mulai tertarik dan kemudian terjun dalam kancah perpolitikan India, ia masih tenggelam dalam liberalisme yang ia peroleh pada saat ia mengemban pendidikan di Barat dan pengaruh dari Dadabhai Naoroji dan Gopal Krishna Gokhale, Muhammad Ali Jinnah memulai kariernya di sayap liberal dari kongres Nasional India pada tahun 1906.[6][6]
Kongres Nasional India (all India National Congress) adalah sebuah partai politik tertua di India, yang didirikan pada tanggal 27 Desember 1885 di Bombay. Pada awal kemerdekaan Negara India, Kongres Nasional India mendominasi di hampir semua aspek kehidupan politik India. Sedangkan pada masa sebelum kemerdekaan, Kongres Nasional India berada pada barisan terdepan dalam perjuangan untuk kemerdekaan. Walaupun di dalam kongres Nasional India menampung kelompok-kelompok sosial radikal, tradisional, bahkan konservatif Muslim dan Hindu, akan tetapi tetap saja dalam prakteknya menjadi perwakilan umat Hindu dalam berpolitik. Kongres Nasional India pada awalnya tidak menentang pemerintahan kolonial Inggris, dan pada perkembangannya Kongres Nasional India menghimpun gerakan kemerdekaan untuk melawan pemerintahan kolonial Inggris.[7][7]
Muhammad Ali Jinnah pada awalnya adalah salah seorang tokoh Muslim India yang memiliki rasa nasionalisme tinggi dan memiliki keinginan agar Negara India bisa merdeka dan menyatukan umat Muslim dan Hindu dalam satu Negara yaitu Negara India, sehingga pada awal terjunnya ke dunia politik Muhammad Ali Jinnah lebih memilih masuk ke dalam kongres Nasional India yang merupakan organisasi politik terbesar pada waktu itu untuk menjadi pilihan wadah berpolitiknya. Namun sebagai seorang Muslim, tetap saja fokus perhatian politik Muhammad Ali Jinnah ditegakkan di atas kepentingan umat Muslim India, yakni ia berpidato tentang masalah yang berhubungan dengan umat Muslim di India, yaitu soal “Waqful Aulad”.[8][8]
Muhammad Ali Jinnah berpegang teguh kepada Kongres Nasional India dan ia bangga tergolong sebagai anggota Kongres Nasional India. Kerena menurut Muhammad Ali Jinnah, Kongres Nasional India telah sesuai dengan pandangannya yaitu berjuang untuk memperoleh kemerdekaan Negara India dan menentang pemerintahan kolonial Inggris.Namun pada tahun 1920, Muhammad Ali Jinnah resmi mengundurkan diri dari Kongres Nasional India, karena ia memiliki perbedaan pandangan dengan Mahatma Gandhi dan Pandit Jawaharlal Nehru tentang masa depan Negara India.[9][9]
Liga Muslim India (All Indian Muslim League) adalah salah satu organisasi politik di India pada masa kolonial Inggris. Liga muslim India tersebut didirikan pada 30 Desember 1906 di Dacca sebagai wadah perjuangan Umat Muslim India.
Sebagai seorang muslim, Muhammad Ali Jinnah tetap menempatkan fokus perhatian politiknya di atas kepentingan umat Muslim. Namun ia memilih Kongres Nasional India dibanding Liga Muslim India sebagai tempatnya bernaung dalam awal karier politiknya. Hal ini disebabkan karena menurut Muhammad Ali Jinnah, Liga Muslim India tidak memiliki tujuan yang cukup tinggi dan menurutnya juga, politik patuh dan setia pada pemerintahan Inggris yang terdapat dalam Liga Muslim tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Namun, pada bulan Maret 1913, Liga Muslim India mengubah Anggaran Dasarnya, yaitu berusaha memperoleh “suatu bentuk pemerintahan sendiri yang sesuai” sebagai tujuan organisasi tersebut, setelah Liga Muslim India mengubah Anggaran Dasarnya dan menurut Muhammad Ali Jinnah telah sesuai dengan apa yang diinginkannya maka ia masuk ke dalam anggota Liga Muslim India, dengan demikian Liga Muslim India memiliki orang kuat.[10][10]
Pada tahun tersebut juga Muhammad Ali Jinnah terpilih menjadi Presiden Liga Muslim India dan mulai aktif dalam kegiatan politiknya yang sesuai dengan tujuan yang ingin ia capai, yaitu berusaha untuk menyatukan umat Muslim dan Hindu India. Usaha-usaha politiknya ia lakukan dari dalam Liga Muslim India. Perjuangan dan kebijakan Ali Jinnah sebagai Presiden Liga Muslim ini adalah demi persatuan Islam dan Hindu untuk meraih satu tujuan yaitu kemerdekaan seluruh India dari cengkeraman penjajahan Inggris. Oleh sebab itu ia mengadakan perundingan dengan Partai Kongres Nasional India, yang di kenal dengan perjanjian Lucknow 1916. Salah satu isinya menetapkan bahwa umat Islam India akan memperoleh daerah pemilikan terpisah, dan ketentuan ini akan dicantumkan dalam UUD India.[11][11]

  1. Ideologi Mohammad Ali Jinnah dalam pembaharuan negara Islam di India
Pemikiran pembaharuan Mohammad Ali Jinnah sebenarnya lebih pada ranah politik. Diantaranya adalah gagasan tentang nasionalisme India, dengan perjuangan yang dilakukan :
1.       Persatuan umat Islam dan Hindu
2.       Kemerdekaan India dari cekreraman penjajah (Inggris)
3.       Nasionalisme

Muhammad Ali Jinnah mengatakan bahwa:
”India tidak akan diperintah oleh umat Hindu dan tidak pula oleh umat Islam, tetapi India harus diperintah oleh rakyat India dalam arti diperintah oleh umat Islam dan Hindu secara bersama-sama. Tuntutan kita adalah memindahkan kekuasaan ke tengah-tengah rakyat India dalam waktu yang tidak begitu lama, dan merupakan prinsip pembaharuan kita. (semangat nasionalisme).”
Tahun 1947, LMI memporeleh suara yang signifikan. Dengan gagasannya dihadapan pemerintah Inggris dan Partai Konggres yaitu membentuk pemerintahan sementara dan memboikot rencana sidang Dewan Konstitusi.

  1. Perjuangan Mohammad Ali Jinnah dalam pembentukan negara islam “Pakistan”
Tahun 1934, Ali Jinnah kembali memimpin Liga Muslim atas permintaan teman-temannya. Liga Muslim dibawah pimpinan Ali Jinnah kali ini berubah menjadi gerakan rakyat yang kuat dari sebelumnya yang hanya beranggotakan para hartawan, pegawai tinggi, dan belum ada hubungan dengan orang awam Muslim.[12][12] Namun kini dengan dukungan para ulama, mereka berhasil menarik para petani, pengrajin dan masyarakat bawah lainnya ke dalam perjuangan Liga Muslim yang berjuang demi kemerdekaan Negara Islam Pakistan, terpisah dari Negara Hindu India.
Pada tahun 1940, Ali Jinnah mengemukakan Two Nations Theory(Teori Dua Bangsa), bahwa Islam dan Hindu adalah dua kultur yang sangat berbeda dan terpisah. Menurutnya, meskipun telah berabad-abad dua bangsa ini hidup dalam satu atap Negara, tetapi kenyataannya mereka tidak pernah bisa bersatu.
Tahun 1944 Ali Jinnah mengadakan perundingan dengan Ghandi dari Partai Kongres untuk membicarakan tentang aksi bersama menghadapi Inggris. Tetapi perundingan tetap mengalami kegagalan. Tapi Ali Jinnah terus menyebarkan ide pembaharuannya. Ia menjelaskan bahwa Negara Pakistan nantinya akan mencakup enam daerah. Juga menjelaskan sistem pelaksanaan pemerintahan yang akan dipegang oleh orang Muslim tanpa melupakan nonmuslim.
Sementara itu, suasana India semakin tak terkendali akibat persaingan politik yang semakin memanas. Terjadi pertikaian yang melibatkan umat Islam dan Hindu yang menewaskan 5000 orang dari kedua pihak. Insiden kekerasan ini semakin menambah kuatnya tuntutan umat Islam untuk memisahkan diri dari India dan membentuk Negara sendiri.
Pemerintah Inggris tidak bisa mengendalikan situasi yang semakin meruncing ini. Hingga akhirnya satu tahun berikutnya Inggris menyerahkan kedaulatan kepada dua Dewan Konstitusi yaitu pihak Pakistan dan India.
Pada tanggal 14 Agustus 1947 Dewan konstitusi Pakistan diresmikan, dan keesokan harinya 15 agustus 1947 Pakistan resmi berdiri sebagai Negara umat Islam, terpisah dari India. Dan Ali Jinnah dibaiat menjadi Qaid-i Azam (Pemimpin Besar) sekaligus Presiden pertama Republik Islam Pakistan. Dalam salah satu pidatonya Ali Jinnah mengatakan, dari sudut pandang apapun ummat Islam adalah satu bangsa, mereka berhak mendirikan Negara sendiri dan menerapkan cara apapun untuk melindungi dan meningkatkan kepentingan mereka dari dominasi India.
Aral tak henti menghadang pertumbuhan negara yang tengah berjuang menerapkan syari'ah (hukum Islam), yang mengakomodasi demokrasi, HAM, toleransi, dan keadilan sosial tersebut. Mayoritas negara-negara anggota PBB rata-rata gerah menyaksikan kemajuan Pakistan di bidang penerapan syari'ah dan pengembangan sains modern. Puncak kekhawatiran itu, berubah menjadi ketakutan dan berujung kepada konspirasi untuk memecah belah.
Tahun 1971 timbul perang saudara antara Pakistan Barat yang dipimpin Presiden Yahya Khan dan Pakistan Timur yang dipimpin Mujibur Rahman.
Dengan bantuan penuh India, serta kelompok konspirasi lainnya, Pakistan Timur berhasil melepaskan diri dari Republik Islam Pakistan. Berdirilah Republik Bangladesh. Republik Islam Pakistan kehilangan satu sayap terpenting, berupa penyusutan wilayah geografis. Setelah tragedi pisahnya Pakistan Barat-Pakistan Timur, Republik Islam Pakistan senantiasa dililit masalah. Selain ketegangan abadi dengan India, baik mengenai perbatasan maupun kepemilikan Khasmir, juga ketengangan internal yang selalu meruntuhkan kewibawaan pemerintahan. 
Tahun 1974, Jenderal Yahya Khan dikudeta oleh Jenderal Zulfikar Ali Butho. Juli 1977, Jenderal Ziaul Haq mengambil alih kekuasaan. Ali Butho dihukum gantung tanggal 4 April 1979. Pemerintah Ziaul Haq memberi dukungan penuh kepada Mujahidin Afganistan, yang sedang berjuang melawan invasi militer Uni Soviet (1979-1989). Namun tahun 1988, Ziaul Haq tewas, ketika helikopter yang ditumpanginya bersama Dubes Amerika Serikat di Pakistan, meledak. Kekuasan berpindah. Hingga muncul Benazir Butho, putri mendiang Zulfikar Ali Butho, merebut takhta Perdana Menteri. Hanya bertahan dua tahun. Tahun 1990, Benazir lengser karena dituduh korupsi. Digantikan Nawaz Sharif, seorang pengikut panatik Ziaul Haq. Sejak itu, pemerintahan Pakistan tak pernah stabil.
Serangan AS ke Afganistan awal 2002, membawa pengaruh luar biasa terhadap Pakistan. Peran Pakistan membesarkan Milisi Thaliban, hingga mampu mendirikan pemerintahan Islam di Afganistan tahun 1996, berubah drastis setelah mendapat tekanan keras AS. Pakistan balik membantu AS menghancurkan Milisi Thaliban. Presiden Pervez Musharraf berperan besar dalam perubahan sikap itu. Seorang Presiden yang berhasil naik tahta dengan aksi kudeta militer tak berdarah ini, merupakan kata kunci bagi perkembangan politik dan ekonomi Pakistan kontemporer. 
In the Line of Fire karya Peresiden Musharraf terbaru (2006), adalah buku yang cukup kontroversial untuk dekade akhir ini. Banyak hal yang ia paparkan dalam buku tersebut, mulai dari perbaikan ekonomi Pakistan, pemulihan demokratisasi, pengentasan kemiskinan, peningkatan taraf pendidikan, emansipasi wanita, sampai kepada perang terhadap terorisme. Dengan langkah-langkah reformasinya ini, seolah ia tengah bermain api, baik kepada kalangan yang memiliki dendam sejarah atasnya, atau kepada kalangan yang menolak terhadap ide demokrasi liberal. Kalangan oposisi pemerintah, sampai kalangan fundamentalis pun selalu memberikan catatan-catatan kritis terhadap perjalanan rezim Musyharaf ini. Nampaknya ideologi Negara Syariat yang sejak awal dirancang, tengah menhadapi ujian, khususnya di saat negara-negara Barat menemukan momentumnya dalam setting perang melawan terorisme. Maka tak heran jika sekarang mulai muncul kembali wacana, bahwa Pakistan lahir atas dasar kepentingan mendirikan Negara Islam, ataukah sebatas membela kepentingan pemeluk Islam dari ketertindasan bangsa India saja. Entah akan ke mana akhir dari firksi ini akan bermuara, yang jelas bola api itu masih terus bergulir sampai saat ini.[13][13]
Setahun setelah perjuangannya mendirikan Negara Pakistan, tepatnya 11 September 1948, Muhammad Ali Jinnah, Presiden Pakistan pertama wafat di Karachi dalam usia 72 tahun.
Jadi secara singkatnya dalam karier intelektualnya adalah :
1.       Sebagai pengacara di London selama 2 tahun
2.       Tahun 1897 (usia 2 tahun) sebagai pengacara di Bombay
3.       Berkenalan dengan Jaksa Agung, Mac Pherson, banyak menimba ilmu (perpustakaan pribadi)
4.       Tahun 1906 terjun ke dunia politik, dan membidani berdirinya Partai Liga Muslimin India, dengan Tujuan :
a.       melindungi dan meningkatkan hak-hak politik serta kepentingan umat Islam yang ada di India.
b.       mencegah pemaksaan dan tekanan dari komunitas lain
5.       Tahun 1913 terpilih sebagai Presiden Liga Muslim India. Dalam perjuangannya melakukan kerja sama dengan Partai Konggres yang menghasilkan Perjanjian Lucknow tahun 1916. Hasilnya : Umat Islam diberi daerah pemilihan terpisah yang dicantumkan dalam undang-undang dasar di India.
6.       Tahun 1917 mengokohkan kerja sama umat Islam dan Hindu.
7.       Tahun 1930-1932 ke London, diadakan KMB tentang perubahan ketatanegaraan dalam proses menuju kemerdekaan India. Dia merasa kecewa dengan umat Hindu karena memaksakan kehendaknya, dan akhirnya menetap di London.
8.       Tahun 1930, sahabatnya Muhammad Iqbal mencetuskan gagasan negara islam bagi umat Islam di India
9.       Tahun 1934, kembali ke India atas permintaan Liaquat Ali Khan, dan kembali memimpin Liga Muslim India
10.   Sidang di Lahore, menghasilkan ”Resolusi Lahore” atau ”Resolusi Pakistan” sebagai pelopor : Maulvi Fazlul Haque. Hasilnya : Umat Islam India merupakan suatu bangsa. Umat Islam. Umat Islam harus merupakan tanah air sendiri terpisah dari umat Hindu, dan tidak akan menerima konstitusi yang tidak menjadi menyebabkan tuntutan dasar ini.
11.   Tahun 1937, LMI mengalami kekalahan dalam pemilu dengan Partai Konggres (ketuanya : Jawaharlal Nehru)
12.   Ketika terjadi konflik antara umat Islam dan Hindu semakin memanas di Calcuta dan Binhar, gagasan pendirian negara sendiri semakin menguat.
13.   Pemerintah Inggris mengalami kesulitan, dan menyerahkan kedaulatan pada kedua Dewan Konstitusi :
a.       India untuk umat Hindu
b.       Pakistan untuk umat Islam
14.   Tanggal 14 Agustus 1947, lahirlah Pakistan sebagai negara
15.   Memimpin Pakistan selama 1 tahun, dan wafat pada tanggal 11 September 1948 dalam usia 72  tahun


BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Ketika membicarakan pembaruan yang dilakukan oleh para pembaru sebelumnya. Pemikiran pembaruan dimulai oleh Syah waliyullah pada akhir abad ke-18 dilanjutkan oleh Sayyid Ahmad Khan, kemudian Muhammad Iqbal dan Muhammad Ali Jinnah beberapa dekade berikutnya, yang kemudian menimbulkan negara Pakistan pada abad ke-20.
Mengingat sejarah perkembangan di India, pembentukan negara tersendiri bagi umat Islam India, adalahsuatu kemestian. Setelah jatuhnya Kerajaan Mughal, umat Islam yang merupakan minoritas di India sadar bahwa kedudukan dan wwujud mereka senantiasa terancam. Inilah yang dirasakan oleh para pembaru India, terutama Ali Jinnah. Para pembaru di India harus diakui mempunyai peranan yang sangat penting bagi pemunculan negara Pakistan. Harus diakui bahwa ide-ide pembaruan yang dilontarkan oleh para pembaru, seperti Ahmad Khan, Amir Ali, Iqbal sangat membantu bagi usaha-usaha Jinnah dalam menggerkkan umat Islam India yang pada abad lalu masih merupakan masyarakat yang berada dalam kemunduran,kemudian dapat diubah menjadi masyarakat yang berpikir sehingga mampu untuk mempunyai wilayah dan pemerintahan Islam tersendiri, yaitu negara Pakistan.
Dengan segala kegigihannya dan keberaniannya, ia terus berusaha mewujudkan suatu koloni Islam yang diikat dalam suatu pemerintahan Islam mandiri dan terbebas dari intervensi pihak manapun. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa Jinnah merupakan tokoh penentu tentang kebangkitan Islam di India. Oleh karena itu, wajarlah jika Jinnah dijuluki sebagai “Bapak Pendiri Pakistan”.

  1. Saran
Menyadari akan keterbatasan penyusun dari segi kolektifitas referensi baik dari segi sistematika penulisan ataupun validitas konten yang tentunya sangat berpengaruh terhadap tingkat keilmiahan makalah ini, maka dengan segala kerendahan hati, penyusun mengharapkan masukan dari setiap pembaca agar kiranya sudi memberikan masukan, baik berupa kritikan ataupun saran yang tentunya membangun untuk penyempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bernilai ilmiah dimata para ilmuan dan tentunya bernilai amaliah di sisi Allah swt.




DAFTAR PUSTAKA

 Ali, Mukti. 1998.  Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan. Mizan: Bandung
Nasution, Harun. 1975.  Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Bulan Bintang: Jakarta
Nasution, Harun, Prof.Dr. 2011. Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang: Jakarta
 Munif, Achmad. 2007. 50 Tokoh Politik Legendaris Dunia. Penerbit Narasi: Yogyakarta
Musyrifa. 2010. Peranan Muhammad Ali Jinnah dalam Mendirikan Negara Republik Islam Pakistan, Skripsi: Fak. Ilmu Sosial dan Politik “Kongres Nasional India”,
Syaukani, Ahmad. 2001.  Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam. CV Pustaka Setia: Bandung
Wibisono, Fattah. 2009.  Pemikiran Para Lokomotif Pembaharuan di Dunia Islam. Rabbani Press: Jakarta










[1][1] Ahmad Syaukani, Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2001), hal. 91
[2][2] Achmad Munif, 50 Tokoh Politik Legendaris Dunia, (Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2007), hal. 143
[3][3] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, (Bandung: Mizan, 1998), hal. 190
[4][4] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal. 200
[5][5]Fattah Wibisono, Pemikiran Para Lokomotif Pembaharuan di Dunia Islam, (Jakarta: Rabbani Press, 2009), hal. 1
[6][6] Musyrifa, Peranan Muhammad Ali Jinnah dalam Mendirikan Negara Republik Islam Pakistan, (Skripsi: Fak. Ilmu Sosial dan Politik, 2010), hal. 33
[7][7] “Kongres nasional India”, di ambil dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Kongres_Nasional_India, pada tanggal 23 Oktober 2012 
[8][8] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, (Bandung: Mizan, 1998), hal. 191
[9][9] Achmad Munif, 50 Tokoh Politik Legendaris Dunia, (Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2007), hal.144
[10][10] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal. 195
[11][11] Fattah Wibisono, Pemikiran Para Lokomotif Pembaharuan di Dunia Islam, (Jakarta: Rabbani Press, 2009), hal. 130
[12][12] Prof.Dr.Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 2011), hal. 189

No comments:

Post a Comment